Lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) yang beroprasi di Kecamatan Wawonii Barat, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), diduga kerap melakukan tindakan yang tidak sesuai ketentuan.

Sebut saja, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak milik CV Yudhavia Energi Pratama (YEP).

Berdasarkan keluhan masyarakat, SPBU ini menjual BBM tidak sesuai harga, bertolak belakang dengan harga sesuai regulasi Pemerintah.

Menyikapi hal itu, PT Pertamina Regional Sulawesi mengaku telah mendapat keluhan dari masyarakat dengan adanya permainan harga BBM yang dilakukan oleh pihak SPBU dengan kode 76.933.02.

Senior Supervisor Communication & Relation PT Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan mengatakan, lembaga penyalur BBM di Wawonii Barat sebelumnya bukan bernama SPBU satu harga, melainkan APMS.

Saat ini, untuk penyamarataan penyebutan nama, maka PT Pertamina menyebut dengan nama SPBU Kompak. Ia pun membeberkan, secara regulasi SPBU Kompak memang diberikan kewenangan BPH Migas untuk menyalurkan BBM dengan menggunakan drum.

“Jadi ini bukan BBM Satu Harga melainkan SPBU Kompak,” ujar dia saat dihubungi Detiksultra.com, Kamis (25/3/2021).

Terkait pelanggaran, Taufiq bilang, pihaknya sudah mendapat laporan dari masyarakat, bahwa pelanggaran SPBU terkait tidak menjual dengan sesuai standar harga BBM.

Mengenai hal itu, lanjut Taufiq, pertamina telah berulang kali memberikan teguran terhadap SPBU Kompak. Terbaru pihaknya kembali memberikan teguran, namun sifatnya pembinaan.

Lebih lanjut, dia mengatakan SPBU milik Yudhavia Energi Pratama merupakan lembaga penyalur satu-satunya di Konkep. Artinya, jika pihak Pertamina memberikan sanksi berat berupa pencabutan alokasi, berarti secara otomatis tidak ada lagi penyaluran di Konkep.

“Kita cenderung memikirkan masyarakat, ketika dicabut alokasinya, maka akan berdampak ke masyarakat itu sendiri,” katanya.

Dimana dijelaskannya lagi, sebelum ini, di Konkep ada dua SPBU Kompak, yang satunya berlokasi di Wawonii Tenggara berbendera PT Sangia Wawonii dan di Wawonii Barat milik PT Yudhavia Energi Pratama.

Namun, kini di Konkep tinggal satu SPBU Kompak yakni milik PT Yudhavia Energi Pratama. Sementara, SPBU milik PT Sangia Wawonii telah dicabut akibat melalukan pelanggaran seperti yang dilakukan oleh SPBU 76.933.02.

Sehingga pada saat itu, PT Pertamina menjatuhkan sanksi kepada PT Sangia Wawonii tutup permanen.

“Nah posisi disana (Konkep), hanya satu lembaga penyalur, jika kita berikan sanksi yang sama seperti PT Sangia Wawonii maka tidak akan ada lagi penyaluran ke masyarakat,” sebut dia.

Saat ini yang dilakukan oleh PT Pertamina, pertama, tetap melakukan pembinaan kepada PT Yudhavia Energi Pratama.

Kedua mempercepat proses pembangunan SPBU PT Sangia Wawonii yang sebelumnya diberikan sanksi. Pertamina mendorong agar PT Sangia kembali beroprasi supaya  PT Yudhavia Energi Pratama tidak menjadi pemain tunggal dalam hal penyaluran BBM.

Ketiga, Pertamina juga tengah melakukan percepatan pembangunan SPBU BBM satu harga baru diluar SPBU Kompak PT Sangia Wawonii dan PT Yudhavia Energi Pratama.

“Kedua SPBU BBM satu harga ini berlokasi di Wawonii Barat dan Wawonii Tenggara. SPBU ini menjual harga BBM sesuai standar, artinya sama dengan SPBU yang ada di daratan. Insyaallah akan beroperasi di 2021 sehingga harapanny akan ada 4 lembaga penyalur nantinya di Konkep,” jelas dia.

Keempat, pihak Pertamina juga turut mendorong Pemda Konkep agar berinisiatif membuka lembaga penyalur BBM.

Harapanya, ketika lembaga penyalur sudah banyak tersebar di Konkep, apalagi sudah ada SPBU BBM Satu Harga, maka demikian jika ada SPBU yang melanggar ketentuan dapat diberikan sanksi dengan cara pengalihan kouta BBM ke SPBU lainnya.

“Tentu dengan banyaknya SPBU di Konkep, akan meminimalisir praktek-praktek kecurangan. Saat ini yang kami lakukan hanya memberikan teguran dan sanksi pembinaan karena kalau kita lakukan pencabutan alokasi, maka matilah penyaluran BBM di Konkep,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Taufiq, pihaknya menawarkan solusi kepada Pemda Konkep. Dimana, ia melihat masyarakat Konkep mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Oleh karena itu, pihaknya menawarkan untuk membuat SPBU nelayan. Yang nanti bisa melalui koperasi nelayan, kemudian diusulkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan setempat.

“Dari situ bisa diusulkan ke Pertamina untuk pembangunan SPBU nelayan,” tandasnya.

Sumber: DetikSultra

Gempa tektonik bermagnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (3/12) pukul 03.36 WIB. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan, hasil analisis menunjukkan gempa memiliki parameter dengan magnitudo M=5,3.

“Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3.41 LS dan 123.37 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 78 km arah Timur Laut Konawe-Kepulauan Sulawesi Tenggara, pada kedalaman 10 km,” kata Rahmat. Dikutip dari Antara.

Rahmat menuturkan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan naik (Thrust fault).

Dikatakannya, guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Kendari III-IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), Konawe Selatan, Konawe Kepulauan II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu).

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa hingga pukul 04.45 WIB, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

Ia kemudian mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” terangnya.

Beberapa warga Sultra tidak merasakan adanya gempa. Usman (27) salah seorang warga di Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Anduonohu, mengatakan tidak merasakan adanya gempa.

“Di daerah sini (wilayah Anduonohu) tidak ada yang rasakan gempa, kalau ada pasti ribut, ditambah lagi pasti banjir story WA-nya orang, tapi ini tidak ada,” katanya.

Aini (25) warga Kecamatan Baruga, mengatakan ia juga tidak merasakan gempa di sekitar wilayah rumahnya. “Tidak ada saya rasa, yang goyang, atau gemetar di dalam rumah juga tidak ada,” tutur Aini. 

Sumber: Merdeka

Empat personel Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) akan menjalani sidang karena menerbangkan helikopter dengan rendah di atas massa aksi mahasiswa di Mapolda Sultra. Ke-4 personel tersebut ialah pilot, kopilot, dan 2 teknisi helikopter.

“Sanksi berat pasti akan menunggu mereka. Sanksi yang akan diberikan ini sesuai dengan yang akan diberikan pada saat sidang,” ujar PlH Kabid Humas Polda Sultra Kombes Laode Proyek kepada detikcom di Kendari, Kamis (1/10/2020).

Lebih lanjut, Laode mengungkapkan sidang akan menentukan kesalahan apa saja yang telah dilakukan 4 personel tersebut terkait kasus helikopter Polda Sultra terbang rendah di atas massa aksi pada Sabtu (26/9) lalu itu. Sidang akan digelar dalam 1 atau 2 hari ke depan.

“Kemarin itu mereka masih di Propam, hari ini dari Propam menyiapkan kelengkapan perangkat-perangkat sidang. Jadi penerapan sanksi kepolisian itu melalui sidang, pemberian sanksi putusan itu melalui sidang,” katanya.

Ke-4 personel helikopter Polda Sultra itu diduga melakukan pelanggaran dengan menerbangkan helikopter dengan rendah di atas massa aksi. Kombes Laode mengungkapkan menerbangkan heli di atas massa aksi untuk membubarkan massa aksi tidak diatur dalam kepolisian.

“Membubarkan itu sudah ada protapnya, protap daratnya itu sudah ada di Perkap Nomor 1 Tahun 2009 ada 6 tahapan, di luar dari itu cara membubarkannya itu sudah dianggap ada melanggar SOP, begitu,” tuturnya.

Meski menerbangkan heli dengan rendah di atas massa aksi, pilot dan kopilot Polda Sultra awalnya hanya ingin mengimbau massa aksi agar tidak ricuh, bukan untuk membubarkan massa aksi. Tapi tindakan itu dinilai melanggar prosedur karena tidak melapor ke kendali operasi.

“Keempat orang itu kan sudah selesai pemeriksaan, sekarang persiapan untuk perangkat, sudah dipersiapkan untuk sidang. Lagi disiapkan bahan-bahannya, kan sudah diperiksa Propam itu hasil pemeriksaan itu dilakukan sidang,” tuturnya.

Sumber: Detik News

Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Kendari menguasai pemilihan Duta GenRe tingkat Sultra tahun 2020 yang dilaksanakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Perwakilan Sultra.

Pada babak final yang berlangsung Minggu (27/9) di salah satu Hotel di Kendari menempatkan duta GenRe Kota Kendari menguasai podium dengan meraih juara 1 baik putra mupun putri.

Juara 1 diraih masing-masing oleh Muh. Ridha Hidayat (Kota Kendari) untuk putra dan Syanaz Nabila Anjani (Kota Kendari) untuk putri. Sementara juara 2 masing-masing oleh Agus Fujianto (Kabupaten Kolaka) untuk putra dan Wardah Salsabila (Kota Kendari) untuk putri. Sedangkan juara 3 masing-masing adalah Ahmad Fahmi Nur (Kota Kendari) untuk putra dan Misdar Nurfaidah (Kabupaten Muna) untuk putri.

“Pemilihan Duta Genre ini diharapkan menjadi figur atau contoh atau menjadi model bagi para remaja lainnya agar menjadi generasi berencana yang berkualitas,” kata kepala BKKBN Sultra, Drs Asmar.

Dia berharap duta GenRe Sultra bisa berbicara banyak ditingkat nasional nanti. “Kita berharap mereka bisa mendapat hasil maksimal pada pemilihan duta GenRe nasional nanti,” ucapnya.

Rangkaian pemilihan Duta Genre dilaksanakan sejak Kamis (24/9/2020). Sebelum babak final pada Minggu (27/9/2020) para duta Genre perwakilan 17 kabupaten/kota se-Sultra ini menjalani karantina khusus. Mereka juga, menjalani pelatihan khusus pengenalan program-program keluarga berencana, terutama Bangga Kencana.

Menurut Asmar, untuk menjadi remaja kualitas butuh perencanaan, termasuk harus memiliki rencana kapan harus berkeluarga, pada usia berapa dan sebagainya.

“Untuk itu, para remaja terutama Duta Genre ini diharapkan mampu menunda usia perkawinannya di usia muda, dengan mempersiapkan segalanya atau dengan merencanakan perkawinan dengan matang,” katanya.

Duta Genre, kata Asmar, nantinya dituntut untuk berbagi wawasan, pengetahuan dan ikut mengedukasi remaja lainnya agar bisa terhindar dari tiga yang menyangkut kesehatan reproduksi remaja.

“Karena sebelum menularkan pengalaman kepada orang lain, seorang duta Genre harus terlebih dahulu menerapkan pada dirinya sendiri agar bisa menjadi teladan,” katanya. 

Sumber:  Rakyat Sultra

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Tenggara (sultra) memusnahkan 1.002 gram barang bukti (BB) narkotika golongan 1 jenis sabu-sabu hasil pengungkapan dari dua orang tersangka. 

Kepala BNN Sultra Brigjen Pol Ghiri Prawijaya, di Kendari, Selasa, mengungkapkan dari jumlah barang bukti yang diamankan oleh pihaknya dari dua orang tersangka yakni inisial FW ditangkap di sebuah hotel di Kendari pada 13 Agustus 2020 dengan BB yang diamankan 511 gram. 

Kedua, tersangka inisial SG yang juga diamankan di sebuah hotel di Kendari pada 14 Agustus 2020 dengan BB yang disita 515,44 gram, sehingga total BB yang berhasil disita oleh BNNP Sultra dari kedua tersangka sebanyak 1.025.44 gram. 

Namun dari BB tersebut, pihak BNN hanya memusnahkan 1.002 gram, sementara 24,44 gram disisihkan untuk dijadikan sampel pemeriksaan di laboratorium dan pembuktian perkara persidangan. 

“Pemusnahan barang bukti yang kami laksanakan hari ini adalah barang bukti narkotika dari dua kasus tindak pidana, pertama tersangka FW barang bukti yang dimusnahkan 501 gram, tersangka kedua SG barang bukti yang dimusnahkan 501 gram,” kata Ghiri, di Kendari, Selasa. 

Ghiri mengungkapkan bahwa pemusnahan barang bukti yang dilakukan pihaknya merupakan pemusnahan yang kelima kali selama tahun 2020. 

Pemusnahan barang bukti tersebut bertujuan untuk mencegah terjadi penyalahgunaan barang bukti. Selain itu, merupakan rangkaian proses penyidikan dengan barang bukti yang sudah mendapat ketetapan status dari kejaksaan negeri untuk dimusnahkan, wajib segera dimusnahkan sesuai perintah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

“Total seluruh barang bukti yang sudah dimusnahkan oleh BNN Sultra sejak bulan Januari sampai dengan hari ini tanggal 8 September 2020 sebanyak 4.619,41 gram,” ujar Ghiri. 

Pemusnahan sabu-sabu tersebut menggunakan mesin insinerator di halaman belakang Kantor BNNP Sultra dengan disaksikan oleh pihak-pihak terkait, seperti perwakilan Kejaksaan Tinggi Sultra, Pengadilan Tinggi Negeri Kendari, perwakilan Direktorat Narkoba Polda Sultra, dan pihak terkait lainnya. 

Sumber: Antara News

 

Analisis klimatologi BMKG Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan di Sultra pada saat ini masuk pada musim kemarau. Namun di beberapa wilayah di Bumi Anoa terjadi hari tanpa hujan (HTH) kurang dari lima hari.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Maritim Kendari Faisal mengatakan HTH kurang dari lima hari ini terjadi terutama di wilayah Sultra bagian utara. Sebutnya, seperti Konawe Selatan (Konsel), Kendari, Konawe, Kolaka Timur (Koltim), Kolaka, Kolaka Utara (Kolut), Konawe Utara (Konut), Buton Utara (Butur), Bombana, Konawe Kepulauan (Konkep) dan Muna.

Ia menjelaskan bila hujan yang terjadi ini disebabkan oleh hangatnya suhu permukaan laut di Sultra. Selain itu, kelembaban pada lapisan rendah yang cukup lembab berkisar 70 hingga 90 persen.

Kemudian, penyebab lain terjadinya hujan ini karena indeks labilitas sedang sampai kuat, serta adanya gangguan regional seperti fenomena gelombang atmosfer (equatorial rossby) yang masuk di wilayah Sultra.

Kata dia, penyebab inilah yang meningkatnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Sultra, sehingga beberapa hari terakhir terjadi peningkatan curah hujan baik intensitas maupun periode waktunya lebih lama di beberapa wilayah tersebut.



“Walaupun intensitas hujan yang turun masih kategori ringan sampai sedang,” ujarnya melalui siaran pers, Selasa (8/9/2020).

Faisal menambahkan informasi prakiraan cuaca untuk tanggal 8 hingga 10 September 2020, berpotensi hujan sedang sampai lebat yang dapat disertai guntur dan angin kencang.

Dengan rincian pada tanggal 8 terjadi di Konawe Selatan, Kendari, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Buton Utara, Muna, dan Konawe Utara). Selanjutnya, pada tanggal 9 terjadi di Konawe Selatan dan Kendari.

Sementara itu, pada tanggal 10 terjadi di Konawe Selatan, Kendari, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Buton Utara, Muna, dan Konawe Utara. Sedangkan untuk Kota Kendari di prakiraan 2 – 3 hari ke depan masih berpotensi hujan ringan sampai sedang pada siang dan sore hari.

Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar waspada dan berhati-hati akibat peningkatan curah hujan yang terjadi. Dan selalu mengupdate informasi dari BMKG agar mitigasi bencana hidrometeorologi dapat dilakukan dengan baik. (b)


Sumber: Zonasultra.com 

Pemerintah bakal menyalurkan Bantuan subsidi kepada karyawan bergaji dibawah Rp5 juta. Penyaluran bantuan berdasarkan data konkrit dari Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sulawesi Tenggara (Sultra) Muhyiddin DJ, menyatakan subsidi gaji ini diperuntukkan karyawan swasta, pegawai Pemerintah non PNS, dan Non BUMN yang memiliki pendapatan dibawah gaji Rp5 juta, dan bakal cair dengan nominal Rp600 perbula selama empat bulan.

BPJS Ketenagakerjaan hanya menyiapkan data penerima sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 14 Tahun 2020, tentang Pedoman Pemberian Bantuan Pemerintah Berupa Subsidi Gaji/Upah Bagi Pekerja/Buruh dalam Penanganan Dampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Untuk Sultra penerimaan sekitar 72 ribu dan persoalan pencairan itu langsung dari Pemerintah, kita hanya operator untuk menyiapkan data yang sesuai dengan Kemenaker Nomor 14 tahun 2020,”jelasnya.

“Terkait 72 ribu penerima dari Sultra, masuk atau tidak wallahua’lam, kita tidak tahu karena bukan kami yang memutuskan,” tambahnya.

Selain itu untuk syarat penerimaan diantaranya karyawan swasta, non PNS dan non BUMN yang gajinya dibawah 5 juta, terdaftar pada program BPJS Ketenagakerjaan sebelum bulan Juni, dan melapor nomor rekening ke BPJS Ketenagakerjaan terlebih dahulu.

“Jadi yang terdaftar pada program BPJS ketenagakerjaan setelah bulan Juni terakhir, jadi kalau baru mendaftar dibulan Juli sudah tidak bisa mendapat bantuan upah ini,” jelasnya.

Sementara untuk output, BPJS Ketenagakerjaan memberikan daftar calon penerima bantuan subsidi upah dan penetapan ada pada kementrian pusat.

“Untuk mekanisme langsung ditransfer pada rekening masing-masing yang melaporkan rekeningnya dan dianggap memenuhi syarat,” ungkapnya

Lanjutnya, untuk penerimaan akan memberikan bantuan dana sebesar Rp 600.000 selama empat bulan. Total bantuan sebesar Rp2,4 juta akan diberikan per dua bulan dengan masing-masing pembayaran sebesar Rp1,2 juta.

“Tugas kami hanya menyiapkan data dan memastikan seluruh pekerja yang memenuhi syarat kita sudah laporkan sebagai calon penerima ,”ujarnya.

Katanya, untuk pelaporan BPJS Ketenagakerjaan bukan hal luar biasa memang seluruh tenaga kerja wajib melaporkan data diri secara lengkap termaksud nomor rekening, ada atau tidak bantuan subsidi upah.

“Cuman ada kebetulan program bantuan subsidi ini, jadi yang belum terlapor nomor rekening kita mintai supaya diinput dalam akun masing-masing pekerja yang terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan sebagai kelengkapan data,”imbuhnya.

 

Sumber: Detiksultra

 

Sebanyak 55 desa yang masuk dalam desa bermasalah atau siluman di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tidak menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah pusat.

Meskipun beberapa kali melakukan pengajuan untuk pencairan BLT, namun tetap saja ditolak oleh sistem. Sebab, sistem dalam aplikasi terkunci oleh Direktoral Jendral Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri.

Sementara, dana BLT program pemerintah pusat sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) bagi warga yang kurang mampu telah dicairkan melalui pemerintah kabupaten dan kota di masing–masing desa dan kelurahan di wilayah Sulawesi Tenggara.

Namun hingga saat ini masih ada 55 desa di Kabupaten Konawe yang belum menerima dana BLT. Pasalnya, ke-55 desa tersebut masuk dalam daftar desa fiktif pada tahun lalu.

Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kendari Teguh Ratno Sukarno mengatakan, belum dicairkanya dana BLT di 55 desa tersebut dikarenakan sistem atau aplikasi terkunci oleh Ditjen Keuangan dan Kemendagri.

“Meskipun Pemda Konawe telah beberapa kali melakukan pengajuan namun tetap saja ditolak oleh sistem,” kata Teguh Ratno Sukarno.

Saat ini, ujar Teguh, ribuan warga di 239 desa di Kabupaten Konawe telah menerima dana BLT. Nilai total BLT untuk 239 desa tersebut Rp72 miliar.

Sekda Konawe dan Kadis BPMD Konawe telah ke Jakarta untuk melakukan pengurusan agar blt di 55 desa ini bisa cair pada Agustus 2020.

Sumber: Sindonews

Terdiri dari banyak pulau, membuat Indonesia memiliki banyak kesenian tradisional yang patut dibanggakan dan dilestarikan, tidak terkecuali kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Beragam alat musik, seni tari hingga upacara adat, menjadi suatu hal yang kini harus diketahui seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

Hal tersebut sangat penting, agar generasi muda dapat lanjut melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional yang ada. Sehingga, semua kesenian tradisional selalu lestari, tidak diambil alih negara lain, atau bahkan mencapai titik kepunahan.

Sulawesi Tenggara sendiri, awalnya merupakan salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara Sulselra, dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten. Kemudian, Sulawesi Tenggara akhirnya ditetapkan sebagai Daerah Otonom, berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No. 13 tahun 1964.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa kesenian tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak dan beragam. Tidak hanya kaya akan seni tari tradisionalnya saja, tetapi juga memiliki segudang alat musik tradisional dan upacara adat, yang menjadi ciri khas dari kesenian tradisional Sulawesi Tenggara itu sendiri.

Adapun semua kesenian tradisional Sulawesi Tenggara tersebut, nantinya akan diulas secara lengkap berdasarkan tiga sub-pembahasan, yaitu sub-pembahasan seni tari, alat musik dan upacara adat.

Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang akan dibahas pertama adalah Seni Tari. Pada dasarnya, tari tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak.

1. Tari Tradisional Molulo

Tari tradisional pertama yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara adalah Molulo. Tari yang kerap kali disebut dengan tari Lula ini merupakan sebuah tarian sakral, yang memiliki banyak makna dan filosofi.

Tari ini juga menjadi salah satu tarian yang digemari oleh suku bangsa Tolaki, karena mencerminkan suku Tolaki yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan serta persatuan. Sehingga, tarian ini biasanya hanya akan ditampilkan apabila ada acara penting atau peristiwa tertentu saja.

Seperti misalnya, ketika menjelang musim panen untuk menghargai para dewi panen, upacara pernikahan, pelantikan raja, atau bahkan ketika ada suatu penyakit yang menjangkit masyarakat suku Tolaki. Maka dari itu, tidak heran apabila tarian ini dianggap sebagai tarian sakral.

Namun, seiring perkembangan zaman, tarian ini menjadi sebuah tarian rakyat yang seringkali ditampilkan di acara-acara kerakyatan maupun acara resmi.

Terlebih, beberapa alat musik yang digunakannya pun mengalami perubahan, seperti gong yang kini sudah tergantikan dengan electone atau organ tunggal.

2. Tari Tradisional Lariangi

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada para tamu, tari tradisional Lariangi kerap kali ditampilkan sebagai tarian pembukaan pada sebuah acara pesta pertemuan. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang satu ini, umumnya ditarikan oleh satu orang penari pria dan beberapa orang penari wanita.

Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa menarikan tari lariangi. Pasalnya, hanya gadis-gadis keturunan bangsawan saja yang dapat menarikan tarian ini. Oleh karena itu, tarian lariangi pada masanya dianggap sebagai tarian sakral.

Dalam pertunjukannya, para penari akan menggunakan kostum yang terdiri dari kain, hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, serta manik-manik untuk penari wanita. Sementara, penari pria hanya akan mengenakan hiasan sarung saja.

Setiap bagian pada kostum yang dikenakan penari tersebut mencerminkan nuansa Kerajaan Buton. Tidak hanya dari derajat kebangsawanannya saja, tetapi juga mencerminkan kemegahan istana Kerajaan Buton itu sendiri.

3. Tari Tradisional Mowindahako

Di urutan ketiga ada tari tradisional Mowindahako, yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Tari yang satu ini meminang gadis pujaannya.

Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa Bahagia dan senang atas diterimanya sebuah pinangan. Untuk itu, tarian ini tidak bisa ditarikan oleh sembarang orang. Karena, tari ini meman hanya ditujukan untuk golongan bangsawan atau anakia saja.

Tari Mowindahako juga kerap disebut sebagai tarian mombesara. Bahkan, sebagian besar orang melihat tarian ini sebagai upacara adat perkawinan, karena gerakan dari tarian ini serupa dengan kegiatan adat perkawinan. Seperti memakai klao, siwole hingga meniru gaya percakapan antara juru bicara laki-laki dan perempuan.

4. Tari Tradisional Mangaru

Sebagai salah satu kesenian tradisional Sulawesi Tenggara, tari tradisional Mangaru menjadi salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat populer.

Tari yang berasal dari Desa Konde, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara ini memiliki pesan positif berupa semangat dan keberanian dalam berperang.

Di mana, dalam pertunjukannya tarian ini akan menunjukan gerakan yang memperlihatkan kegigihan dan semangat juang laki-laki, dalam beradu kekuatan menggunakan keris. Disisi lain, beberapa penari lainnya pun yang menarikan tarian mangaru menggunakan belati.

Tari ini nantinya akan ditampilkan dengan iringan musik tradisional Sulawesi Tenggara, dan umumnya dipertunjukan di acara-acara penting yang melibatkan masyarakat Desa Konde, seperti pesta rakyat dan lain sebagainya.

5. Tari Tradisional Umoara

Tari tradisional yang terakhir adalah Umoara. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara ini, kerap kali digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu penting atau tamu agung, pada acara perkawinan para bangsawan dan acara pengantaran jenazah bangsawan. Selain itu, tari umoara juga dipertunjukan ketika berlangsungnya upacara pelantikan seorang raja.

Tarian ini sejatinya memiliki gerakan yang serupa dengan tari mangaru, karena memperlihatkan ketangkasan, kewaspadaan, kemampuan menyerang musuh hingga kemampuan dalam membela diri di tengah peperangan.

Maka dari itu, tidak heran apabila tari ini dilakukan oleh dua hingga tiga orang penari laki-laki. Yang mana, para penari tersebut akan membawakan tarian dengan penuh semangat.

Terlihat dari banyaknya gerakan melompat, berduel dengan saling menyerang satu sama lain, yang dihiasi dengan teriakan-teriakan keberanian.

Sumber: Cekaja

Sungai dapat diartikan sebagai aliran air yang memanjang dan mengalir terus-menerus dari hulu menuju hilir. Keberadaan sungai tentunya sangat bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Kita juga mengenal sungai-sungai dengan panjang ratusan bahkan ribuan kilometer, sebut saja Sungai Nil yang mempunyai panjang sekitar 6.650 kilometer.

Namun, terdapat sungai yang hanya mempunyai panjang tidak lebih dari 100 meter lho! Berikut daftarnya!

1. Sungai Tamborasi, Indonesia

Sungai Tamborasi tepatnya berada di Pantai Tamborasi, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan panjang yang hanya 20 meter membuat sungai ini menjadi yang terpendek di dunia.

Wisatawan yang berkunjung ke sini selain mendapat pemandangan pantai yang indah juga berkesempatan melihat sungai terpendek di dunia. Suatu hal yang bisa dibanggakan juga tentunya.

2. Sungai Reprua, Georgia

Sungai yang terletak di Distrik Gagra, Abkhazia, Georgia ini hanya mempunyai panjang 27 meter. Hulu dari Sungai Reprua bermula dari Karst di Gua Krubera dan mengalir sampai bermuara di Laut Hitam. Jika dilihat, sungai ini merupakan sungai berbatu yang memiliki arus cukup deras.

3. Sungai Ombla, Kroasia

Sungai Ombla merupakan sungai terpendek di Kroasia dan yang terpendek ke-4 di dunia. Memiliki panjang sekitar 30 meter, sungai ini juga merupakan mata air bagi warga di Kota Dubrovnik. Sumber dari sungai ini sendiri bermula dari aliran air di bawah tanah hingga bermuara ke Laut Adriatik.

4. Sungai Jezernica, Slovenia

Sungai yang terletak di Slovenia ini mempunyai panjang hanya 55 meter yang menjadikannya sungai terpendek di negara tersebut. Sungai Jezernica sejatinya adalah anak sungai dari Sungai Idrijca yang mengalir sejauh 60 kilometer, hingga bermuara di Laut Adriatik. Aliran air Sungai Jezernica tercatat cukup deras, bisa mencapai 60 meter kubik per detik.

5. Sungai Roe, Amerika Serikat

Sungai yang mengalir di Montana, Amerika Serikat ini mempunyai panjang 61 meter. Tidak seperti kebanyakan sungai yang bermuara ke laut, Sungai Roe sendiri bermula di mata air raksasa dan bermuara ke Sungai Missouri. Sungai ini juga pernah tercatat di Guiness book of World Records sebagai sungai terpendek di dunia sebelum Guiness menghapus kategori tersebut.

6. Sungai Rio Los Patos, Dominika

Sungai ini terletak di dekat Kota Paraiso, Provinsi Barahona, Republik Dominika. Warga di desa sekitar sungai sendiri hidup dari perikanan serta pariwisata lokal.

Dengan panjang yang hanya 61 meter, sungai ini bermuara di Pantai Baharona yang terletak di Laut Caribbean. Sungai Rio Los Patos juga cukup populer dijadikan tempat mandi di akhir pekan karena suhunya yang dingin.

Itulah sungai-sungai terpendek dari seluruh penjuru dunia, semoga informasi menarik tadi bisa menambah pengetahuan serta wawasan kamu.

Sumber: IDNTimes