Paket Idul Fitri

Jelang lebaran Idul Fitri 1443 H tahun 2022, PT Gema Kreasi Perdana (PT GKP) salurkan ribuan paket bingkisan untuk kelompok rentan di 11 Desa lingkar tambang di Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).

Program penyaluran paket Idul Fitri 1443 H yang melibatkan aparat desa setempat secara door to door, dilakukan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 22 s.d 26 April 2022

Direktur Operasional PT GKP, Bambang mengatakan kelompok rentan yang dimaksud adalah masyarakat yang berstatus fakir miskin, lansia, janda, dan yatim piatu.

Menurut dia, pemilihan kelompok rentan sebagai penerima paket bertujuan untuk membantu dan mengurangi beban ekonomi masyarakat yang berasal dari kelompok tersebut.

“Alhamdulillah seluruh paket Idul Fitri sebanyak 1.200 telah kami salurkan ke seluruh masyarakat kelompok rentan di desa lingkar tambang,” ungkap dia, pada Selasa (26/04).

Dalam proses penyaluran, Bambang menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh aparat di 11 desa lingkar tambang, yang sudah bahu-bahu membahu menyalurkan paket lebaran itu.

Ia pun berharap paket lebaran yang dibagikan dapat bermanfaat dan meringankan beban warga yang berada di kawasan IUP anak perusahan Harita Grup tersebut.

“Kami dibantu oleh aparat desa saat proses penyaluran bingkisan tersebut berlangsung. Insya Allah semoga paket bingkisan kami dapat meringankan serta memberikan kebahagiaan bagi masyarakat kelompok rentan,” harapnya.

Perlu diketahui, saat ini PT GKP belum beroperasi di Wawonii Tenggara, namun perusahaan telah memberikan banyak dampak positif kepada masyarakat lingkar tambang.

Selain program Ramadhan dan Idul Fitri, perusahaan juga telah membina kelompok UMKM, dan telah menghasilkan produk kacang mete serta produk olahan kelapa yang diproduksi oleh ibu-ibu dari desa lingkar tambang.

Sumber: Kendarinesia.com

Mangrove Sultra

Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Sampara Kendari menyebutkan luas tanaman dan pengembangan mangrove di Sultra sekitar 94.020,40 hektare (ha) yang tersebar di 16 kabupaten kota di Sultra.

Kepala BPDASHL Sampara, Muhammad Aziz Ahsoni di Kendari, Kamis, menyebutkan dari luas tanaman dan potensi mangrove di Sultra itu terdiri atas potensi habitat mangrove seluas 27.787,74 hektare dan eksisting mangrove seluas 66.232,66v hektare.

“Jadi Potensi habitat mangrove yang luasnya lebih dari 27 ribu hektare itu meliputi area terabrasi seluas 0,74 ha, lahan terbuka 1.116,12 ha, mangrove terabrasi 283,69 ha, tambak seluas 26.093,06 ha dan tanah timbul seluas 294,14 ha. Sementara eksisting mangrove dari 66 ribu lebih meliputi mangrove jarang seluas 3.902,78 ha, mangrove lebat 40.811,13 ha dan mangrove sedang seluas 21.518,74 ha,” ujarnya.

Azis Ashori yang didampingi Kasi Program DASHL Abd,Jalil dan Kasi RHL Carles mengatakan selama 2019 hingga 2021 atau tiga tahun terakhir Badan DASHL Sampara melaksanakan penanaman mangrove di Kabupaten Buton Utara seluas 75 hektare. tahun 2020 seluas 67 hektare di Pulau Wawonii Konawe Kepulauan dan Muna serta sebagian di kawasan konservasi.

“Dalam mendukung penanaman mangrove yang berkelanjutan saat ini BPDASHL telah memiliki bibit persemaian sebanyak 20.000 mangrove dengan ukuran bibit mulai 75 centimeter hingga 1 meter yang pengembangannya di kawasan Kampung Bakau Kota Kendari,” ujarnya.

Ia menambahkan pada 2020 program yang banyak dilakukan adalah melibatkan masyarakat dalam program Padat Karya Penanaman Mangrove (PKPM) yang tersebar di belasan kabupaten di Sultra.

“Program padat karya penanaman mangrove itu tidak lain bertujuan mendukung program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN) pada masa pandemi COVID-19,” ujara Aziz Ahsoni.

Pada Program Rehabiliutas Hutan Lindung Mangrove di Sultra, ada masa pemeliharaan tahun pertama hingga tahun ketiga, termasuk rehabilitasi hutan lindung magrove melalui Program Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) selama 2021, yakni di Kabupaten Muna seluas 42 ha, Taman Nasional Rawaopa Watumohai 100 ha, Taman Nasional Wakatobi 100 ha, dan BKSDA Sultra seluas 8 hektare.

Sumber: antarasultra

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia harus mampu mengubah ketergantungan pertumbuhan ekonomi dari sektor konsumsi ke sektor produksi. Misalnya untuk komoditas nikel yang bisa diolah menjadi barang jadi seperti baterai lithium(lithium battery).

“Kita harus mampu menggunakan momentum krisis ini untuk mempercepat transformasi ekonomi, kita harus mengubah ketergantungan pertumbuhan ekonomi dari sektor konsumsi kita transformasikan ke sektor produksi,” kata Jokowi dalam sambutannya di Seminar Nasional ISEI 2021 Akselerasi Pemulihan Ekonomi di Era Digital, Selasa (31/8/2021).

Jokowi menegaskan, semua komoditas yang ada akan didorong untuk hilirisasi dan industrialisasi, misalnya nikel dalam 3-4 tahun akan berubah menjadi barang jadi seperti lithium baterai, baterai listrik, baterai mobil listrik. Jadi perusahaan-perusahaan penambang seperti PT ANTAM, PT GNI dan PT GKP tidak hanya menambang dan dilempar ke luar negeri namun diolah langsung di dalam negeri. 

Tidak hanya nikel, Presiden juga meminta agar komoditas tambang seperti bauksit dan komoditas perkebunan kelapa sawit juga harus dikelola dari hulu hingga hilirnya supaya menghasilkan barang bernilai tambah.

“Begitu juga dengan bauksit, lalu kelapa sawit yang turunannya banyak sekali. Kita harus mempercepat transformasi di sektor pertanian juga, semua harus disiapkan dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Selain itu, Presiden menegaskan bahwa penting untuk melakukan diversifikasi komoditas pertanian. Kelembagaan petani dengan model klaster harus diperkuat, badan usaha milik petani, koperasi, dan BUMDes harus terus dikembangkan.

“Nilai tambah dari pasca panen perlu ditingkatkan, dan akses pemasaran harus diperluas dengan menjalin kemitraan dengan industri. Akses pembiayaan harus dipermudah dan disederhanakan,” katanya.

Tidak hanya berhenti disitu, Pemerintah juga konsisten melakukan transformasi struktural, untuk memastikan upaya-upaya menciptakan iklim investasi yang semakin menarik, lebih baik, dan lebih adil terus dilakukan.

Hal itu terbukti dengan hadirnya Undang-undang Ciptakerja Nomor 11 tahun 2020, Pemerintah berupaya terus memberikan kemudahan berusaha untuk dunia usaha.

“Dengan menyelesaikan UU ciptakerja nomor 11 tahun 2020, peringkat kemudahan berusaha terus dilakukan,” pungkasnya

simulasi perhitungan suara

Dalam rangka menyukseskan pemilihan Calon Kepala Daerah (Cakada) tahun 2021 mendatang di Konawe Kepulauan (Konkep) yang terhitung tinggal 14 hari lagi, KPUD Konkep terus berupaya agar pemilihan dapat berjalan dengan lancar dan kondusif sesuai regulasi PKPU

Untuk itu, KPUD Konkep menggelar pelatihan penggunaan uji coba aplikasi simulasi terhadap PPK, PPS, dan KPPS kecamatan Wawonii Barat di ruang rapat KPUD Konkep, Rabu (25/11/2020).

Badran selaku Koordinator Divisi Teknis KPUD Konkep menjelaskan kegiatan uji coba aplikasi simulasi dilaksanakan selama dua hari dan kegiatan tersebut berakhir hari ini (25/11).

“Kegiatan perhitungan suara hasil rekapitulasi (Rekap) ini dilaksanakan dalam bentuk uji coba penggunaan aplikasi ini dan sebelumnya sudah kami rapatkan bersama DPRD, Bawaslu dan KPU RI”, kata Badrun kepada Wartawan Tegas.co, Rabu (25/11/2020).

“Awalnya DPRD menolak penggunaan aplikasi simulasi tersebut untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah tahun 2020 dengan banyak pertimbangan, baik dari sumber daya manusia masing-masing kabupaten yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah serentak”, tambah Badran.

Tetapi untuk pemilihan tahun 2020 ini, kata Badran aplikasi simulasi tersebut tetap akan di uji coba kelayakan dan mencari kendala dari aplikasi simulasi tersebut untuk persiapan di pemilu tahun 2024 mendatang.

“Untuk perhitungan rekapitulasi suara tahun 2020 tetap masih manual. Untuk aplikasi simulasi hanya perbantuan dari manual agar memudahkan untuk mengirim hasil perhitungan suara ke link atau situs resmi KPU RI”, pungkasnya.

Sumber: Tegas.co

JAKARTA – Putra Sulawesi Tenggara, Dr Muh Rasman Manafi SP MSi, dilantik sebagai Asisten Deputi Pengelolaan Ruang Laut dan Pesisir, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordintor Bidang  Maritim dan Investasi (Kemenko Marves), Selasa (25 Agustus 2020).

Rasman dilantik bersama 20 eselolan II lainnya, oleh Sekretaris Kemenko Marves, Agung Kuswandono, berlangsung di Auditorium Gedung BPPT 2 Kemenko Marves dalam suasana penuh protokol Covid-19.

Rasman dan para pejabat eselon II yang dilantik merupakan hasil seleksi terbuka pengisian jabatan tinggi pratama lingkup Kemenko Marves yang berlangsung dari Juni hingga Agustus 2020.

Sekretaris Kemenko Marves, Agung Kuswandono, dalam sambutannya mengatakan, Kemenko Marves menjadi yang terbaik dengan kinerja dan koordinasi, sehingga para pejabat yang dilantik diharapkan bekerja lebih baik lagi untuk mewujudkan misi institusi.

“Jaga kekompakan dan lakukan yang terbaik dalam pembangunan maritim bagi pembangunan bangsa,” pesan Agung Kuswandono. 

Dia meminta para pejabat yang dilantik untuk mewujudkan target semua kinerja pada angka 100 persen dengan meningkatkan koordinasi lintas kementerian, khususnya 7 kementerian di bawah koordinasi Kemenko Marves.

Rasman sebelum dilantik menjadi Asdep, menjabat sebagai Kabid Pengelolaan Jasa Kelautan Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim.

Mengenai jabatan barunya, usai dilantik, Rasman menjelaskan, dia mempunyai tugas melaksanakan penyiapan koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan serta pengendalian pelaksanaan kebijakan Kementerian/Lembaga yang terkait dengan isu di bidang pengelolaan ruang laut dan pesisir.

Sumber: Sultrakini

Pemerintah bakal menyalurkan Bantuan subsidi kepada karyawan bergaji dibawah Rp5 juta. Penyaluran bantuan berdasarkan data konkrit dari Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sulawesi Tenggara (Sultra) Muhyiddin DJ, menyatakan subsidi gaji ini diperuntukkan karyawan swasta, pegawai Pemerintah non PNS, dan Non BUMN yang memiliki pendapatan dibawah gaji Rp5 juta, dan bakal cair dengan nominal Rp600 perbula selama empat bulan.

BPJS Ketenagakerjaan hanya menyiapkan data penerima sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 14 Tahun 2020, tentang Pedoman Pemberian Bantuan Pemerintah Berupa Subsidi Gaji/Upah Bagi Pekerja/Buruh dalam Penanganan Dampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Untuk Sultra penerimaan sekitar 72 ribu dan persoalan pencairan itu langsung dari Pemerintah, kita hanya operator untuk menyiapkan data yang sesuai dengan Kemenaker Nomor 14 tahun 2020,”jelasnya.

“Terkait 72 ribu penerima dari Sultra, masuk atau tidak wallahua’lam, kita tidak tahu karena bukan kami yang memutuskan,” tambahnya.

Selain itu untuk syarat penerimaan diantaranya karyawan swasta, non PNS dan non BUMN yang gajinya dibawah 5 juta, terdaftar pada program BPJS Ketenagakerjaan sebelum bulan Juni, dan melapor nomor rekening ke BPJS Ketenagakerjaan terlebih dahulu.

“Jadi yang terdaftar pada program BPJS ketenagakerjaan setelah bulan Juni terakhir, jadi kalau baru mendaftar dibulan Juli sudah tidak bisa mendapat bantuan upah ini,” jelasnya.

Sementara untuk output, BPJS Ketenagakerjaan memberikan daftar calon penerima bantuan subsidi upah dan penetapan ada pada kementrian pusat.

“Untuk mekanisme langsung ditransfer pada rekening masing-masing yang melaporkan rekeningnya dan dianggap memenuhi syarat,” ungkapnya

Lanjutnya, untuk penerimaan akan memberikan bantuan dana sebesar Rp 600.000 selama empat bulan. Total bantuan sebesar Rp2,4 juta akan diberikan per dua bulan dengan masing-masing pembayaran sebesar Rp1,2 juta.

“Tugas kami hanya menyiapkan data dan memastikan seluruh pekerja yang memenuhi syarat kita sudah laporkan sebagai calon penerima ,”ujarnya.

Katanya, untuk pelaporan BPJS Ketenagakerjaan bukan hal luar biasa memang seluruh tenaga kerja wajib melaporkan data diri secara lengkap termaksud nomor rekening, ada atau tidak bantuan subsidi upah.

“Cuman ada kebetulan program bantuan subsidi ini, jadi yang belum terlapor nomor rekening kita mintai supaya diinput dalam akun masing-masing pekerja yang terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan sebagai kelengkapan data,”imbuhnya.

 

Sumber: Detiksultra

 

Indonesia kaya nikel, bahan tambang yang menjadi bahan pokok pembuatan baterai lithium. Inilah yang menjadikan posisi Indonesia sangat penting dalam era perkembangan mobil listrik. Perangkat utama mobil listrik adalah baterai, komposisinya sekitar 40%. Oleh sebab itu, pengembangan baterai lithium akan menjadi tulang punggung industri mobil dunia.

Ini sesuai dengan keinginan masyarakat dunia untuk mengurangi efek rumah kaca akibat emisi karbon yang tinggi. Indonesia sendiri menetapkan menurunkan emisi karbon sampai 30% tahun 2025 nanti. Padahal setiap tahun pertumbuhan kendaraan di Indonesia mencapai 10%  sampai 15%. Artinya, mengembangkan industri mobil listrik merupakan kebutuhan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain dampaknya yang lebih sehat untuk lingkungan, mobil listrik juga bisa menekan biaya jauh lebih murah dibanding mobil yang berbahan bakar fosil. Kita tahu, harga minyak yang penuh gejolak, dan cadangan minyak yang terus menipis membuat orang berpikir untuk mencari alternatif energi. Nah, mobil listrik merupakan jalan keluar. Kemampuannya double. Selain menekan emisi, gas buang juga lebih efisien.

Korea atau Cina bisa saja mengembangkan teknologi kendaraan, tapi untuk bahan baku baterai lithium, mereka harus menoleh ke Indonesia. Ketersediaan nikel sebagai bahan utama dan tenaga terampil yang banyak tersedia membuat para investor luar negeri mengincar Indonesia untuk mengembangkan pembuatan baterai litium.

Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan strategi pemulihan ekonomi salah satunya dengan hilirisasi industri pertambangan. Hilirisasi dianggap sebagai salah satu kebijakan yang sangat strategis dalam menarik minat para investor untuk melirik Indonesia sebagai tujuan investasi.

Di Eropa, lanjutnya, pengoperasian mobil listrik ditarget pada 2030. Kemudian, cepat atau lambat, Menko Luhut menilai Indonesia juga akan mengadaptasinya. 

Secara global, jumlah cadangan nikel dunia sekitar 72% berada dalam batuan oksida yang biasa disebut laterit dan sisanya batuan sulfida. Namun demikian, hanya sekitar 42% dari total produksi nikel dunia bersumber dari bijih laterit (Dalvi dkk., 2004).

Sulawesi Tenggara

Potensi sumber daya alam yang dimiliki Sulawesi Tenggara amatlah kaya dengan beragam jenis komoditas seperti nikel, aspal, hingga emas. Bahkan jumlah cadangan nikel di Sulawesi Tenggara disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan termasuk dalam cadangan nikel terbesar di dunia.

Lebih jauh, komoditas nikel yang paling mendominasi di kawasan Sulawesi Tenggara. Di tempat itu pun berdiri megah kawasan mega industri. Di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe misalnya, terdapat sebuah proyek smelter yang kemudian menjadi yang terbesar di wilayah Indonesia Timur, khususnya untuk pengolahan stainless. 

Selain itu, ada juga di Kabupaten Konawe Utara terdapat aktivitas perusahaan tambang nikel yang cukup ramai. Kawasan tersebut biasa disebut di pulau Wawonii yang dipenuhi oleh kegiatan penambangan nikel oleh sejumlah perusahaan. Diketahui, perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan nikel di wilayah tersebut adalah PT Gema Kreasi Perdana. Perusahaan telah mampu menyumbang banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Sumber: Indonesia.go

Sebanyak 55 desa yang masuk dalam desa bermasalah atau siluman di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tidak menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah pusat.

Meskipun beberapa kali melakukan pengajuan untuk pencairan BLT, namun tetap saja ditolak oleh sistem. Sebab, sistem dalam aplikasi terkunci oleh Direktoral Jendral Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri.

Sementara, dana BLT program pemerintah pusat sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) bagi warga yang kurang mampu telah dicairkan melalui pemerintah kabupaten dan kota di masing–masing desa dan kelurahan di wilayah Sulawesi Tenggara.

Namun hingga saat ini masih ada 55 desa di Kabupaten Konawe yang belum menerima dana BLT. Pasalnya, ke-55 desa tersebut masuk dalam daftar desa fiktif pada tahun lalu.

Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Kendari Teguh Ratno Sukarno mengatakan, belum dicairkanya dana BLT di 55 desa tersebut dikarenakan sistem atau aplikasi terkunci oleh Ditjen Keuangan dan Kemendagri.

“Meskipun Pemda Konawe telah beberapa kali melakukan pengajuan namun tetap saja ditolak oleh sistem,” kata Teguh Ratno Sukarno.

Saat ini, ujar Teguh, ribuan warga di 239 desa di Kabupaten Konawe telah menerima dana BLT. Nilai total BLT untuk 239 desa tersebut Rp72 miliar.

Sekda Konawe dan Kadis BPMD Konawe telah ke Jakarta untuk melakukan pengurusan agar blt di 55 desa ini bisa cair pada Agustus 2020.

Sumber: Sindonews

Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan strategi pemulihan ekonomi salah satunya dengan hilirisasi industri pertambangan. Hilirisasi dianggap sebagai salah satu kebijakan yang sangat strategis dalam menarik minat para investor untuk melirik Indonesia sebagai tujuan investasi.

Hal tersebut dikarenakan sumbangan terbesar Pendapatan Negara ‎Bukan Pajak (PNBP) berasal dari sektor energi dan pertambangan mineral batubara (minerba) mencapai Rp 172,9 triliun pada 2019. Salah satu yang sedang digenjot saat ini adalah hilirisasi nikel.

“Nikel ini dulu kita hanya ekspor, kira-kira nilainya USD 612 juta setahun. Tapi sekarang kalau dilihat kita sudah ekspor itu USD 6,24 miliar itu setelah menjadi stainless steel slab,” ujar Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam Webinar Investasi di Tengah Pandemi, Sabtu (25/7).

Di sisi lain, Menko Luhut melihat permintaan mobil listrik akan semakin meningkat di masa depan. Artinya, permintaan untuk baterai litium juga akan meningkat. Ini peluang bagi Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

“Baterai ini karena kita memiliki cadangan terbesar dan terbaik nikel ores, kita akan menjadi pemain utama nanti dalam nikel ores ini untuk (diolah menjadi) lithium baterai,” tutur Menko Luhut.

Di Eropa, lanjutnya, pengoperasian mobil listrik ditarget pada 2030. Kemudian, cepat atau lambat, Menko Luhut menilai Indonesia juga akan mengadaptasinya. “Dengan demikian, kita secara bertahap akan mengurang fosil energi. Akibatnya, kita akan mengurangi impor crude oil,” kata dia.

Secara global, jumlah cadangan nikel dunia sekitar 72% berada dalam batuan oksida yang biasa disebut laterit dan sisanya batuan sulfida. Namun demikian, hanya sekitar 42% dari total produksi nikel dunia bersumber dari bijih laterit (Dalvi dkk., 2004).

Potensi sumber daya alam yang dimiliki Sulawesi Tenggara amatlah kaya dengan beragam jenis komoditas seperti nikel, aspal, hingga emas. Bahkan jumlah cadangan nikel di Sulawesi Tenggara disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan termasuk dalam cadangan nikel terbesar di dunia.

Lebih jauh, komoditas nikel yang paling mendominasi di kawasan Sulawesi Tenggara. Di tempat itu pun berdiri megah kawasan mega industri. Di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe misalnya, terdapat sebuah proyek smelter yang kemudian menjadi yang terbesar di wilayah Indonesia Timur, khususnya untuk pengolahan stainless. 

Selain itu, ada juga di Kabupaten Konawe Utara terdapat aktivitas perusahaan tambang nikel yang cukup ramai. Kawasan tersebut biasa disebut di pulau Wawonii yang dipenuhi oleh kegiatan penambangan nikel oleh sejumlah perusahaan. Diketahui, perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan nikel di wilayah tersebut adalah PT Gema Kreasi Perdana. Perusahaan telah mampu menyumbang banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Sumber: Merdeka.com

Terdiri dari banyak pulau, membuat Indonesia memiliki banyak kesenian tradisional yang patut dibanggakan dan dilestarikan, tidak terkecuali kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Beragam alat musik, seni tari hingga upacara adat, menjadi suatu hal yang kini harus diketahui seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

Hal tersebut sangat penting, agar generasi muda dapat lanjut melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional yang ada. Sehingga, semua kesenian tradisional selalu lestari, tidak diambil alih negara lain, atau bahkan mencapai titik kepunahan.

Sulawesi Tenggara sendiri, awalnya merupakan salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara Sulselra, dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten. Kemudian, Sulawesi Tenggara akhirnya ditetapkan sebagai Daerah Otonom, berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No. 13 tahun 1964.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa kesenian tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak dan beragam. Tidak hanya kaya akan seni tari tradisionalnya saja, tetapi juga memiliki segudang alat musik tradisional dan upacara adat, yang menjadi ciri khas dari kesenian tradisional Sulawesi Tenggara itu sendiri.

Adapun semua kesenian tradisional Sulawesi Tenggara tersebut, nantinya akan diulas secara lengkap berdasarkan tiga sub-pembahasan, yaitu sub-pembahasan seni tari, alat musik dan upacara adat.

Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang akan dibahas pertama adalah Seni Tari. Pada dasarnya, tari tradisional Sulawesi Tenggara sangat banyak.

1. Tari Tradisional Molulo

Tari tradisional pertama yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara adalah Molulo. Tari yang kerap kali disebut dengan tari Lula ini merupakan sebuah tarian sakral, yang memiliki banyak makna dan filosofi.

Tari ini juga menjadi salah satu tarian yang digemari oleh suku bangsa Tolaki, karena mencerminkan suku Tolaki yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan serta persatuan. Sehingga, tarian ini biasanya hanya akan ditampilkan apabila ada acara penting atau peristiwa tertentu saja.

Seperti misalnya, ketika menjelang musim panen untuk menghargai para dewi panen, upacara pernikahan, pelantikan raja, atau bahkan ketika ada suatu penyakit yang menjangkit masyarakat suku Tolaki. Maka dari itu, tidak heran apabila tarian ini dianggap sebagai tarian sakral.

Namun, seiring perkembangan zaman, tarian ini menjadi sebuah tarian rakyat yang seringkali ditampilkan di acara-acara kerakyatan maupun acara resmi.

Terlebih, beberapa alat musik yang digunakannya pun mengalami perubahan, seperti gong yang kini sudah tergantikan dengan electone atau organ tunggal.

2. Tari Tradisional Lariangi

Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada para tamu, tari tradisional Lariangi kerap kali ditampilkan sebagai tarian pembukaan pada sebuah acara pesta pertemuan. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara yang satu ini, umumnya ditarikan oleh satu orang penari pria dan beberapa orang penari wanita.

Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa menarikan tari lariangi. Pasalnya, hanya gadis-gadis keturunan bangsawan saja yang dapat menarikan tarian ini. Oleh karena itu, tarian lariangi pada masanya dianggap sebagai tarian sakral.

Dalam pertunjukannya, para penari akan menggunakan kostum yang terdiri dari kain, hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, serta manik-manik untuk penari wanita. Sementara, penari pria hanya akan mengenakan hiasan sarung saja.

Setiap bagian pada kostum yang dikenakan penari tersebut mencerminkan nuansa Kerajaan Buton. Tidak hanya dari derajat kebangsawanannya saja, tetapi juga mencerminkan kemegahan istana Kerajaan Buton itu sendiri.

3. Tari Tradisional Mowindahako

Di urutan ketiga ada tari tradisional Mowindahako, yang menjadi kesenian tradisional Sulawesi Tenggara. Tari yang satu ini meminang gadis pujaannya.

Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa Bahagia dan senang atas diterimanya sebuah pinangan. Untuk itu, tarian ini tidak bisa ditarikan oleh sembarang orang. Karena, tari ini meman hanya ditujukan untuk golongan bangsawan atau anakia saja.

Tari Mowindahako juga kerap disebut sebagai tarian mombesara. Bahkan, sebagian besar orang melihat tarian ini sebagai upacara adat perkawinan, karena gerakan dari tarian ini serupa dengan kegiatan adat perkawinan. Seperti memakai klao, siwole hingga meniru gaya percakapan antara juru bicara laki-laki dan perempuan.

4. Tari Tradisional Mangaru

Sebagai salah satu kesenian tradisional Sulawesi Tenggara, tari tradisional Mangaru menjadi salah satu ikon kebudayaan Indonesia yang sangat populer.

Tari yang berasal dari Desa Konde, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara ini memiliki pesan positif berupa semangat dan keberanian dalam berperang.

Di mana, dalam pertunjukannya tarian ini akan menunjukan gerakan yang memperlihatkan kegigihan dan semangat juang laki-laki, dalam beradu kekuatan menggunakan keris. Disisi lain, beberapa penari lainnya pun yang menarikan tarian mangaru menggunakan belati.

Tari ini nantinya akan ditampilkan dengan iringan musik tradisional Sulawesi Tenggara, dan umumnya dipertunjukan di acara-acara penting yang melibatkan masyarakat Desa Konde, seperti pesta rakyat dan lain sebagainya.

5. Tari Tradisional Umoara

Tari tradisional yang terakhir adalah Umoara. Kesenian tradisional Sulawesi Tenggara ini, kerap kali digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu penting atau tamu agung, pada acara perkawinan para bangsawan dan acara pengantaran jenazah bangsawan. Selain itu, tari umoara juga dipertunjukan ketika berlangsungnya upacara pelantikan seorang raja.

Tarian ini sejatinya memiliki gerakan yang serupa dengan tari mangaru, karena memperlihatkan ketangkasan, kewaspadaan, kemampuan menyerang musuh hingga kemampuan dalam membela diri di tengah peperangan.

Maka dari itu, tidak heran apabila tari ini dilakukan oleh dua hingga tiga orang penari laki-laki. Yang mana, para penari tersebut akan membawakan tarian dengan penuh semangat.

Terlihat dari banyaknya gerakan melompat, berduel dengan saling menyerang satu sama lain, yang dihiasi dengan teriakan-teriakan keberanian.

Sumber: Cekaja