Lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) yang beroprasi di Kecamatan Wawonii Barat, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), diduga kerap melakukan tindakan yang tidak sesuai ketentuan.

Sebut saja, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak milik CV Yudhavia Energi Pratama (YEP).

Berdasarkan keluhan masyarakat, SPBU ini menjual BBM tidak sesuai harga, bertolak belakang dengan harga sesuai regulasi Pemerintah.

Menyikapi hal itu, PT Pertamina Regional Sulawesi mengaku telah mendapat keluhan dari masyarakat dengan adanya permainan harga BBM yang dilakukan oleh pihak SPBU dengan kode 76.933.02.

Senior Supervisor Communication & Relation PT Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan mengatakan, lembaga penyalur BBM di Wawonii Barat sebelumnya bukan bernama SPBU satu harga, melainkan APMS.

Saat ini, untuk penyamarataan penyebutan nama, maka PT Pertamina menyebut dengan nama SPBU Kompak. Ia pun membeberkan, secara regulasi SPBU Kompak memang diberikan kewenangan BPH Migas untuk menyalurkan BBM dengan menggunakan drum.

“Jadi ini bukan BBM Satu Harga melainkan SPBU Kompak,” ujar dia saat dihubungi Detiksultra.com, Kamis (25/3/2021).

Terkait pelanggaran, Taufiq bilang, pihaknya sudah mendapat laporan dari masyarakat, bahwa pelanggaran SPBU terkait tidak menjual dengan sesuai standar harga BBM.

Mengenai hal itu, lanjut Taufiq, pertamina telah berulang kali memberikan teguran terhadap SPBU Kompak. Terbaru pihaknya kembali memberikan teguran, namun sifatnya pembinaan.

Lebih lanjut, dia mengatakan SPBU milik Yudhavia Energi Pratama merupakan lembaga penyalur satu-satunya di Konkep. Artinya, jika pihak Pertamina memberikan sanksi berat berupa pencabutan alokasi, berarti secara otomatis tidak ada lagi penyaluran di Konkep.

“Kita cenderung memikirkan masyarakat, ketika dicabut alokasinya, maka akan berdampak ke masyarakat itu sendiri,” katanya.

Dimana dijelaskannya lagi, sebelum ini, di Konkep ada dua SPBU Kompak, yang satunya berlokasi di Wawonii Tenggara berbendera PT Sangia Wawonii dan di Wawonii Barat milik PT Yudhavia Energi Pratama.

Namun, kini di Konkep tinggal satu SPBU Kompak yakni milik PT Yudhavia Energi Pratama. Sementara, SPBU milik PT Sangia Wawonii telah dicabut akibat melalukan pelanggaran seperti yang dilakukan oleh SPBU 76.933.02.

Sehingga pada saat itu, PT Pertamina menjatuhkan sanksi kepada PT Sangia Wawonii tutup permanen.

“Nah posisi disana (Konkep), hanya satu lembaga penyalur, jika kita berikan sanksi yang sama seperti PT Sangia Wawonii maka tidak akan ada lagi penyaluran ke masyarakat,” sebut dia.

Saat ini yang dilakukan oleh PT Pertamina, pertama, tetap melakukan pembinaan kepada PT Yudhavia Energi Pratama.

Kedua mempercepat proses pembangunan SPBU PT Sangia Wawonii yang sebelumnya diberikan sanksi. Pertamina mendorong agar PT Sangia kembali beroprasi supaya  PT Yudhavia Energi Pratama tidak menjadi pemain tunggal dalam hal penyaluran BBM.

Ketiga, Pertamina juga tengah melakukan percepatan pembangunan SPBU BBM satu harga baru diluar SPBU Kompak PT Sangia Wawonii dan PT Yudhavia Energi Pratama.

“Kedua SPBU BBM satu harga ini berlokasi di Wawonii Barat dan Wawonii Tenggara. SPBU ini menjual harga BBM sesuai standar, artinya sama dengan SPBU yang ada di daratan. Insyaallah akan beroperasi di 2021 sehingga harapanny akan ada 4 lembaga penyalur nantinya di Konkep,” jelas dia.

Keempat, pihak Pertamina juga turut mendorong Pemda Konkep agar berinisiatif membuka lembaga penyalur BBM.

Harapanya, ketika lembaga penyalur sudah banyak tersebar di Konkep, apalagi sudah ada SPBU BBM Satu Harga, maka demikian jika ada SPBU yang melanggar ketentuan dapat diberikan sanksi dengan cara pengalihan kouta BBM ke SPBU lainnya.

“Tentu dengan banyaknya SPBU di Konkep, akan meminimalisir praktek-praktek kecurangan. Saat ini yang kami lakukan hanya memberikan teguran dan sanksi pembinaan karena kalau kita lakukan pencabutan alokasi, maka matilah penyaluran BBM di Konkep,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Taufiq, pihaknya menawarkan solusi kepada Pemda Konkep. Dimana, ia melihat masyarakat Konkep mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Oleh karena itu, pihaknya menawarkan untuk membuat SPBU nelayan. Yang nanti bisa melalui koperasi nelayan, kemudian diusulkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan setempat.

“Dari situ bisa diusulkan ke Pertamina untuk pembangunan SPBU nelayan,” tandasnya.

Sumber: DetikSultra

simulasi perhitungan suara

Dalam rangka menyukseskan pemilihan Calon Kepala Daerah (Cakada) tahun 2021 mendatang di Konawe Kepulauan (Konkep) yang terhitung tinggal 14 hari lagi, KPUD Konkep terus berupaya agar pemilihan dapat berjalan dengan lancar dan kondusif sesuai regulasi PKPU

Untuk itu, KPUD Konkep menggelar pelatihan penggunaan uji coba aplikasi simulasi terhadap PPK, PPS, dan KPPS kecamatan Wawonii Barat di ruang rapat KPUD Konkep, Rabu (25/11/2020).

Badran selaku Koordinator Divisi Teknis KPUD Konkep menjelaskan kegiatan uji coba aplikasi simulasi dilaksanakan selama dua hari dan kegiatan tersebut berakhir hari ini (25/11).

“Kegiatan perhitungan suara hasil rekapitulasi (Rekap) ini dilaksanakan dalam bentuk uji coba penggunaan aplikasi ini dan sebelumnya sudah kami rapatkan bersama DPRD, Bawaslu dan KPU RI”, kata Badrun kepada Wartawan Tegas.co, Rabu (25/11/2020).

“Awalnya DPRD menolak penggunaan aplikasi simulasi tersebut untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah tahun 2020 dengan banyak pertimbangan, baik dari sumber daya manusia masing-masing kabupaten yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah serentak”, tambah Badran.

Tetapi untuk pemilihan tahun 2020 ini, kata Badran aplikasi simulasi tersebut tetap akan di uji coba kelayakan dan mencari kendala dari aplikasi simulasi tersebut untuk persiapan di pemilu tahun 2024 mendatang.

“Untuk perhitungan rekapitulasi suara tahun 2020 tetap masih manual. Untuk aplikasi simulasi hanya perbantuan dari manual agar memudahkan untuk mengirim hasil perhitungan suara ke link atau situs resmi KPU RI”, pungkasnya.

Sumber: Tegas.co

Indonesia kaya akan destinasi wisata. Namun, banyak yang belum dikelola dengan baik. Misalnya, destinasi wisata di Kabupaten Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
 
Air Terjun Tumburano menjadi wisata andalan di sana, namun kurangnya perhatian dari pemerintah membuat Air Terjun Tumburano masih sepi pengunjung.
 
Air Terjun Tumburano dijuluki air terjun tertinggi dan terbesar di Kecamatan Wawonii Utara. Air Terjun Tumburano memiliki ketinggian sekira 120 meter dengan tiga undakan air terjun besar dan beberapa undakan kecil.

Air Terjun Tumburano terbagi atas tiga tingkatan. Pada tingkatan ketiga merupakan air terjun tertinggi (80 meter) dan bisa diakses melalui air terjun tingkat kedua dengan tinggi sekitar 15 meter.
 
Tak hanya memesona, Air Terjun Tumburano memiliki kisah legenda tentang sepasang kekasih, Durubalewa dan Wulangkinokooti, yang tidak direstui kedua orang tuanya. Mereka memutuskan mengakhiri hidup di air terjun tersebut.
 
Untuk mencapai air terjun Tumburano dari Kota Langara, Ibu Kota Kabupaten Konawe Kepulauan, harus menempuh jarak 7 kilometer. Sebelum mencapai air terjun, pengunjung dihadapkan pada kondisi jalan yang rusak. Pengunjung harus menggunakan kendaraan doule cabin karena medan yang sulit.
 
Ketua Bappeda Kabupaten Konawe Kepulauan Syafiuddin Alibnas mengatakan, untuk membuka akses jalan ke Air Terjun Tumburano butuh pendekatan khusus dengan pemilik tanah. Sebab, untuk mencapai air terjun Tumburano harus melalui kebun warga.
 
Meskipun destinasi wisata di Pulau Wawonii atau Kabupaten Konawe Kepulauan belum tersentuh infrastruktur, Pemkab Konawe terus melakukan berbagai upaya mengenalkan kawasan wisata unggulan.
 
“Kita harus mempromosikan air terjun ini di Kota Kendari dan tempat-tempat pelabuhan. Misalnya, di Langara. Kita siapkan transportasi jika ada yang ingin melihat atau menikmati Air Terjun Tumburano,” kata Syafiuddin Alibnas.

Salah seorang pengunjung wisata Air Terjun Tumburano Helen mengatakan pesona Air Terjun Tumburano sangat indah dan pesona, namun terkendala sulitnya akses jalan.
 
“Infrastruktur jalan sangat memprihatinkan. Sebenarnya kalau pemerintah bisa memperbaiki infrasturktur menuju air terjun, tempat ini pasti banyak pengunjungnya,” ucap Helen.
 
Pj Bupati Konawe Kepulauan Muhamad Yusuf mengatakan destinasi wisata di daerahnya harus diperkenalkan hingga tingkat nasional.
 
“Untuk mengenalkan destinasi wisata di Kabupaten Konawe Kepulauan disatukan dengan wisata di Kota kendari, Pulau Bokori di Kabupaten Konawe, Pulau Labengki di Kabupaten Konawe Utara dan destinasi wisata di Kabupaten Muna,” ujarnya.
 
Sejak dimekarkan menjadi Kabupaten Konawe Kepulauan, kabupaten ini baru memiliki bupati definitif satu periode, yakni Bupati Kabupaten Konawe Kepulauan Amrullah dan Wakil Bupati Muhamad Lutfi. Meraka terpilih pada Pilkada 2015. Saat ini, mereka kembali maju untuk mencalonkan diri pada Pilkada 2020 yang akan digelar pada 9 Desember.
 
Gubernur Sulawesi Tenggara menunjuk Muhamad Yusuf yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Koperasi Sulawesi Tenggara untuk menjabat sebagai PJ Bupati Konawe Kepulauan.
 
Selain Air Terjun Tumburano masih ada sejumlah destinasi wisata lain yang tak kalah memukau, yaitu Air Terjun Kopea, Air Terjun Lanuku, dan Air Terjun Ringkulele di Sungai Mesolo.
 
Untuk wisata pantai, terdapat Pantai Kampa yang memiliki pemandangan indah dengan hamparan pasir putih sepanjang 1,3 kilometer. Selain itu ada juga Pantai Tengkera, Batu Belah, dan pemandian air panas.

Sumber: Medcom ID